Tampilkan postingan dengan label Arsitektur Ramah Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arsitektur Ramah Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juli 2015

Perencanaan Konsep Ramah Lingkungan




Gerakan Hijau atau green movement berkembang pesat diseluruh dunia yang tujuannya tidak hanya sekedar melindungi sumber daya alam secara umum, tetapi juga pada penerapannya dalam rangka efisiensi penggunaan energi dan air serta meminimalisir kerusakan lingkungan hidup. Demikian juga kesadaran masyarakat dunia tentang lingkungan hidup, khususnya dalam bidang arsitektur, meningkat dengan tajam dalam dekade terakhir ini. Praktek rancang - bangun arsitektur dan industri konstruksi sedikit banyak telah berubah dan bergerak kearah bangunan yang ramah lingkungan, sebagai perwujudan sikap masyarakat yang semakin perduli terhadap lingkungan hidup.
Secara umum, “green building” atau bangunan ramah lingkungan yang juga dikenal sebagai konstruksi hijau atau bangunan yang berkelanjutan, mengacu pada struktur dan menggunakan proses yang bertanggung-jawab terhadap lingkungan dan sumber daya yang efisien di seluruh siklus hidup bangunannya : mulai dari penentuan tapak, perencanaan, pelaksanaan konstruksi, penggunaan atau pengoperasian, pemeliharaan, renovasi hingga pembongkarannya.
Bagi seorang arsitek, merancang bangunan ramah lingkungan sesungguhnya adalah sebuah proses. Tujuannya bukanlah untuk menciptakan arsitektur bangunan yang sempurna, melainkan untuk menciptakan arsitektur bangunan yang lebih baik, lebih nyaman bagi penggunanya dengan memperhatikan serta bertanggung-jawab terhadap aspek-aspek lingkungan hidup disekitarnya. Menuju bangunan yang ramah lingkungan dapat dicapai dengan mengukur dampak pada lingkungan luar (bangunan) yang (akan) ditimbulkannya dan membantu memperbaiki lingkungan dalam (bangunan) sehingga menghasilkan rancang-bangun arsitektur yang lebih bertanggung-jawab terhadap kesehatan dan kenyamanan pengguna bangunan serta lingkungan disekitarnya. Biasanya beberapa aspek yang diperhatikan antara lain : rancangan arsitektur bangunan (baik secara Passive Design maupun Active Design), metodologi membangun, material bangunan, efisiensi penggunaan energi, efisiensi penggunaan air dan life cycle ecological living.
Pendekatan umum yang menjadi prinsip-prinsip dasar bangunan hijau atau perancangan berkesinambungan (sustainable design) dalam konteks rancangan arsitektur yang ramah lingkungan ini meliputi berbagai hal, diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Pemilihan lokasi pembangunan di kawasan yang sesuai dengan peruntukan lahan dan telah tersedia jaringan fasilitas umum yang mendasar (misalnya : jaringan jalan, jaringan listrik, jaringan komunikasi, jaringan drainase, jaringan transportasi umum, jaringan pemadam kebakaran, dll) untuk menghindari terjadinya “urban sprawl” serta menghindari pengurangan area hijau akibat perambahan lahan baru untuk lokasi pembangunan yang baru. Selain itu, pemilihan lokasi yang tepat juga mengurangi carbon footprint melalui kemudahan akses serta ketersediaan fasilitas umum yang memadai bagi pengguna bangunan, baik dari maupun menuju bangunannya. 
  2. Rekayasa Iklim Mikro yang dimaksudkan untuk memperbaiki iklim dan suhu pada lingkungan disekitar bangunan yang akan berpengaruh terhadap suhu dalam bangunan, yang dapat ditempuh melalui beberapa cara, antara lain : Disain lansekap yang memadai, baik jenis, jumlah & fungsi masing-masing tanaman, dengan lokasi budidaya lokal yg relatif lebih cocok dengan iklim setempat (ditambah dengan wall garden / taman vertikal, roof garden, balcony plantation & indoor plantation) serta didukung oleh teknologi lansekap yg relatif murah dan sederhana (layering system, biopori, turf-pave, artificial but natural pond, dll) yang juga mengakomodir peresapan air ke dalam tanah terkait penanganan beban banjir setempat (storm water management) serta mengkonservasi air tanah.Pemilihan material perkerasan atau penutup non-atap bangunan yang memiliki nilai Solar Absorbtance (Solar Absorbtance adalah kemampuan suatu material untuk menyerap radiasi panas matahari) yang tinggi, sehingga mencegah radiasi panas matahari yang diterimanya tidak direfleksikan ke lingkungan disekitarnya yang bisa mengakibatkan penambahan beban pengkondisian udara atau cooling load pada bangunan disekitarnya. 
  3. Penentuan orientasi massa bangunan terkait orientasi matahari, dengan mengusahakan bidang massa terlebar / terbesar bangunan beserta bukaannya mengarah ke utara-selatan, serta bidang massa terkecil / tersempit yang mengarah ke timur-barat dan meminimalisir bidang bukaan pada arah ini. Hal ini dimaksudkan agar penerimaan beban panas matahari yg terbesar pada arah timur-barat bangunan dapat dikurangi, sehingga beban pengkondisian udara (cooling load) pada bangunan juga berkurang namun penggunaan cahaya alami pada bangunan dapat dimaksimalkan.
  4. Pemilihan material selubung bangunan & teknologi pemasangan yang tepat, yang dapat mengurangi RTTV (Roof Thermal Transfer Value) & OTTV (Overall Thermal Transfer Value) selubung bangunan secara signifikan, sehingga beban pengkondisian udara (cooling load) bangunan dan konsumsi energi listrik berkurang secara signifikan pula. Hal ini dapat ditempuh dengan berbagai cara, antara lain : Meminimalisir bukaan bangunan pada sisi timur-barat, sehingga mengurangi penerimaan beban panas matahari terbesar. Memaksimalkan bukaan bangunan pada sisi utara-selatan, sehingga memaksimalkan penggunaan cahaya matahari pada siang hari, namun meminimalisir penerimaan beban panas matahari. Memaksimalkan penggunaan ventilasi udara silang alami (natural cross ventilation) yang memungkinkan siklus pergantian udara dalam ruang memanfaatkan mekanisme alami, sehingga meminimalisir penggunaan ventilasi mekanik dan mengurangi penggunaan Air Conditioning untuk pengkondisian udara dalam ruangan. Jika selimut bangunan menggunakan material kaca, sebaiknya dipilih material kaca yang dilengkapi dengan lapisan khusus untuk mengurangi infiltrasi atau transfer radiasi panas matahari (misalnya : Low Emissivity Glass, dll) pada sisi terluarnya dan jika memungkinkan, sebaiknya menggunakan dinding kaca dengan sistem double glazing / double pane, dimana ruang diantara 2 lapis kaca pada dinding / jendela (biasanya diisi dengan gas khusus atau hampa udara) berfungsi sebagai penahan panas atau memerangkap radiasi panas matahari sehingga transfer panas dari luar bangunan ke ruang dalam bangunan berkurang secara signifikan. Menggunakan material penutup atap yang memiliki nilai albedo / Solar Reflectant Index yang tinggi serta menggunakan teknologi konstruksi atap yang dilengkapi dengan lapisan penahan panas (heat insulation). Apabila memungkinkan, sebaiknya dipertimbangkan untuk memanfaatkan bagian atap bangunan sebagai roof garden dan dilengkapi pula dengan teknologi konstruksi atap yang diberi lapisan heat insulation sehingga dapat mengurangi Roof Thermal Transfer Value (RTTV) bangunan secara signifikan. Apabila memungkinkan, dapat juga memanfaatkan sisi vertikal atau dinding pada bagian eksterior bangunan sebagai taman vertikal (atau lebih umum dikenal dengan vertical garden / wall garden) yang secara signifikan dapat mengurangi infiltrasi radiasi panas matahari ke ruang dalam bangunannya, dsb. 
  5. Mengoptimalkan pemanfaatan sinar matahari sebagai sumber cahaya alami utama pada siang hari, melalui pemanfaatan ruang-ruang di bagian kulit bangunan atau perimeter daylight area sebagai ruang-ruang aktif / ruang kerja dan dilengkapi dengan teknologi grouping & sensor pada sistem pencahayaan buatannya, sehingga mengurangi penggunaan artificial lighting atau cahaya buatan pada siang hari. 
  6. Menempatkan & menggunakan peralatan listrik yg efisien & efektif pada bangunan, yaitu : disain chiller & sistem AC yang tidak berlebihan, lampu hemat energi, elevator & escalator yang dilengkapi dengan auto-generated system & sleep mode, fitur listrik lainnya yang berbasis hemat energi, dsb. 
  7. Memanfaatkan sumber air alternatif, misalnya : menampung air hujan untuk dimanfaatkan sebagai sumber air bersih atau untuk siram tanaman, mendaur-ulang & memanfaatkan kembali air bekas (AC, wudhu, grey-water, dsb) serta jika memungkinkan agar memanfaatkan teknologi daur-ulang air (Water Treatment Plant) yang sesuai dengan kebutuhan bangunan.
  8. Menggunakan fitur-fitur yang hemat pada instalasi air bangunannya, misalnya : faucet / keran yang dilengkapi dengan automation system & aerator yang berfungsi mengurangi dan mengontrol volume keluaran air namun tetap menjaga tekanan air yang keluar relatif sama dengan fitur air yang konvensional, double-flush system pada kloset / WC, dsb. 
  9. Memilih material interior bangunan yang ramah lingkungan & sehat, misalnya : cat yang berbasis air & low-Volatile Organic Compounds, menghindari penggunaan material yang berbasis Ozone Depleting Potential, sebisa mungkin memanfaatkan material lama / bekas untuk didaur-ulang dan dipakai kembali (reuse & recycle), tidak menggunakan material berbahan asbestos, merkuri & formaldehyde, memilih material yang sumbernya regional berbasis ramah lingkungan & terbarukan, dsb sehingga kualitas udara dalam ruang dapat terjaga dengan baik yang berdampak positif bagi pengguna ruang dalam bangunannya sendiri. 
  10. Pengurangan & penanganan sampah, melalui penerapan prinsip “Reduce – Reuse - Recycle” serta pemilahan sampah untuk kemudian dapat diolah & dimanfaatkan kembali dalam bentuk maupun fungsi yang baru, misalnya : sampah makanan / organik dapat diolah dan dimanfaatkan kembali menjadi pupuk kompos, sampah plastik & kertas dapat diolah & dimanfaatkan kembali menjadi perabotan / peralatan plastik & kertas daur-ulang, dsb.
Prinsip-prinsip perencanaan diatas berfokus terhadap bangunan yang memungkinkan interaksi yang baik antara manusia dengan lingkungan. Konsep ini berkaitan dengan adaptasi rancangan terhadap kondisi alam, urban design dan perencanaan tapak, serta tingkat kenyamanan bangunan yang akan dicapai. Hal ini berkaitan dengan keharmonisan hidup semua konstituen ekosistem: elemen non organik, organisme hidup dan manusia. Prinsip ini tumbuh dari filosofi pemikiran untuk menghargai keberadaan seluruh benda dan mahluk hidup di muka bumi.
Pada akhirnya, untuk dapat merancang bangunan yang ramah lingkungan, seorang perencana / arsitek harus belajar tentang masalah lingkungan hidup. Pendidikan arsitektur atau perencanaan bangunan harus dapat menumbuhkan keperdulian terhadap lingkungan dan memperkenalkan masyarakat kepada etika lingkungan, serta mengembangkan keahlian berdasarkan ilmu pengetahuan (knowledge base on sustainable design). Pengembangan keahlian berdasarkan ilmu pengetahuan adalah penting, tetapi perubahan gaya hidup dan sikap terhadap lingkungan tidak kalah pentingnya. So, let’s live green, not “looks” green.

Bahan Bangunan Ramah Lingkungan

Pada dasarnya, konstruksi rumah yang baik adalah konstruksi yang menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan, dalam hal ini rumah ramah lingkungan. Sangat disayangkan, kurang dari satu persen bangunan di Indonesia masih belum menerapkan konsep konstruksi berkelanjutan ini. Konstruksi berkelanjutan merupakan prinsip pembangunan yang diterapkan mulai dari pemanfaatan bahan baku, perencanaan, infrastruktur, dan pengelolaan limbah.


Konsep konstruksi berkelanjutan menekankan peningkatan efisiensi dalam penggunaan air, energi, dan material bangunan mulai dari desain, pembangunan, hingga pemeliharaan bangunan itu. Selain itu konstruksi berkelanjutan merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan yang merupakan proses pemeliharaankeseimbangan kehidupan secara ekologis, sosial, dan ekonomis.

Penggunaan bahan material sangat berperan besar dalam pelaksanaan konstruksi bangunan yang ramah lingkungan. Akibat pemanasan global berbagai inovasi produk industri terus berkembang dalam dunia bahan bangunan. Penggunaan material bangunan yang tepat dapat menghasilkan bangunan berkualitas yang ramah lingkungan.

Dalam proses pembangunan rumah ramah lingkungan sebaiknya dilakukan survei terlebih dahulu, untuk menentukan alternatif material bahan bangunan yang bersifat praktis dan mampu memberi solusi yang tepat bagi kebutuhan bangunannya. Pemilihan material bahan bangunan berpengaruh pada konsumsi energi bangunan tersebut. Pada saat didirikan, konsumsi energi bangunan tersebut berkisar antara 5-13% sedangkan 87-95% merupakan angka konsumsi energi bangunan selama masa hidup bangunan tersebut.

Sebagai contoh penggunaan material bahan untuk membangun rumah ramah lingkungan yaitu pembangunan bangunan hijau. Yang dimaksud bangunan hijau disini adalah bangunan yang menggunakan material bahan bangunan yang lebih memperhatikan keadaan alam.

Material ramah lingkungan memiliki kriteria sebagai berikut;
tidak beracun, sebelum maupun sesudah digunakan
dalam proses pembuatannya tidak memproduksi zat-zat berbahaya bagi lingkungan
dapat menghubungkan kita dengan alam, dalam arti kita makin dekat dengan alam karena kesan alami dari material tersebut (misalnya bata mengingatkan kita pada tanah, kayu pada pepohonan)
bisa didapatkan dengan mudah dan dekat (tidak memerlukan ongkos atau proses memindahkan yang besar, karena menghemat energi BBM untuk memindahkan material tersebut ke lokasi pembangunan)
bahan material yang dapat terurai dengan mudah secara alami
Penggunaan baja ringan dan alumunium untuk kerangka bangunan utama dan atap mulai dilakukan sebagai pengganti material kayu. Beredarnya isu illegal logging akibat penebangan kayu hutan yang tak terkendali menempatkan bangunan berbahan kayu mulai berkurang sebagai wujud kepedulian terhadap kelestarian bumi. Baja ringan dapat dipilih berdasarkan beberapa tingkatan kualitas tergantung dari bahan bakunya. Rangka atap dan bangunan dari baja memiliki keunggulan lebih kuat, anti karat, anti keropos, anti rayap, lentur, mudah dipasang, dan lebih ringan sehingga tidak membebani konstruksi dan fondasi, serta dapat dipasang dengan perhitungan desain arsitektur dan kalkulasi teknik sipil.

Untuk kerangka bangunan utama dan atap, kini material kayu sudah mulai digantikan material baja ringan. Isu penebangan liar (illegal logging) akibat pembabatan kayu hutan yang tak terkendali menempatkan bangunan berbahan kayu mulai berkurang sebagai wujud kepedulian dan keprihatinan terhadap penebangan kayu dan kelestarian bumi. Peran kayu pun perlahan mulai digantikan oleh baja ringan dan aluminium.

Kusen jendela dan pintu juga sudah mulai menggunakan bahan aluminium sebagai generasi bahan bangunan masa datang. Aluminium memiliki keunggulan dapat didaur ulang (digunakan ulang), bebas racun dan zat pemicu kanker, bebas perawatan dan praktis (sesuai gaya hidup modern), dengan desain insulasi khusus mengurangi transmisi panas dan bising (hemat energi, hemat biaya), lebih kuat, tahan lama, antikarat, tidak perlu diganti sama sekali hanya karet pengganjal saja, tersedia beragam warna, bentuk, dan ukuran dengan tekstur variasi (klasik, kayu).

Bahan dinding dipilih yang mampu menyerap panas matahari dengan baik. Batu bata alami atau fabrikasi batu bata ringan (campuran pasir, kapur, semen, dan bahan lain) memiliki karakteristik tahan api, kuat terhadap tekanan tinggi, daya serap airrendah, kedap suara, dan menyerap panas matahari secara signifikan.

Penggunaan keramik pada dinding menggeser wallpaper merupakan salah satu bentuk inovatif desain. Dinding keramik memberikan kemudahan dalam perawatan, pembersihan dinding (tidak perlu dicat ulang, cukup dilap), motif beragam dengan warna pilihan eksklusif dan elegan, serta menyuguhkan suasana ruang yang bervariasi. Bangunan menggunakan bahan bangunan yang tepat, efisien, dan ramah lingkungan. Beberapa produsen telah membuat produk dengan inovasi baru yang meminimalkan terjadinya kontaminasi lingkungan, mengurangi pemakaian sumber daya alam tak terbarukan dengan optimalisasi bahan baku alternatif, dan menghemat penggunaan energi secara keseluruhan.

Bahan baku yang ramah lingkungan berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan bumi. Beragam inovasi teknologi proses produksi terus dikembangkan agar industri bahan baku tetap mampu bersahabat dengan alam. Industri bahan bangunan sangat berperan penting untuk menghasilkan bahan bangunan yang berkualitas sekaligus ramah lingkungan.

Semen, keramik, batu bata, aluminium, kaca, dan baja sebagai bahan baku utama dalam pembuatan sebuah bangunan berperan penting dalam mewujudkan konsep bangunan ramah lingkungan.

Kehalusan permukaan dan warna bahan bangunan sangat menentukan iklim mikro di sekitar bangunan, warna cerah dan permukaan licin adalah pemantul sinar matahari yang baik dan menaikkan suhu sekitar. Warna gelap dan permukaan kasar akan membantu meredam dan menyerap sinar dan panas matahari. Bahan bangunan berpori mudah meluncurkan panas dan meluncurkannya kembali jika suhu udara disekitarnya menurun. Sangat bijaksana jika memanfaatkan bahan-bahan bangunan alami seperti aslinya untuk pelapis dinding dan lantai luar.

Di samping itu diperlukan teknik insulasi yang baik untuk meredam pancaran panas genteng ke ruang di bawahnya (kasur ijuk sangat baik sebagai isolasi atap di bawah genteng daripada nylon wool). Dalam ruang atap yang tertutup rapat, terjadi udara yang lebih panas dari sinar matahari atau suhu udara luar. Panas pada ruang atap akan dipancarkan ke bawah ke langit-langit dan dipancarkan lagi ke ruang fungsional di bawahnya.
Dalam hal sanitasi, septic tank dengan penyaring biologis (biological filter septic tank) berbahan fiberglass dirancang dengan teknologi khusus untuk tidak mencemari lingkungan, memiliki sistem penguraian secara bertahap, dilengkapi dengan sistem desinfektan, hemat lahan, antibocor atau tidak rembes, tahan korosi, pemasangan mudah dan cepat, serta tidak membutuhkan perawatan khusus.

Kotoran diproses penguraian secara biologis dan filterisasi secara bertahap melalui tiga kompartemen. Media kontak yang dirancang khusus dan sistem desinfektan sarana pencuci hama yang digunakan sesuai kebutuhan membuat buangan limbah kotoran tidak menyebabkan pencemaran pada air tanah dan lingkungan.

Ikllim mikro di sekitar bangunan perlu dikendalikan dengan memanfaatkan tanaman hijau yang berdaun gelap dan lebat. Sangat ideal jika 30% – 70% volume ruang lahan bangunan terisi tanaman hijau dan 30% – 70% luasan permukaan tanah tidak ditutupi material keras.


Source : 

Konsep SPA2 : Arsitektur Ramah Lingkungan

Gedung Hijau
Konsep green building atau bangunan ramah lingkungan didorong menjadi tren dunia bagi pengembangan properti saat ini. Bangunan ramah lingkungan ini punya kontribusi menahan laju pemanasan global dengan membenahi iklim mikro.
“Poin terbesar dalam konsep ini adalah penghematan air dan energi serta penggunaan energi terbarukan,” kata Rana Yusuf Nasir dari Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI), sebagai salah satu pembicara dalam diskusi panel “Pemanasan Global-Apa yang Dapat Dilakukan Dunia Properti?”, Jumat (24/8) di Jakarta.
Menurut Rana, di Indonesia akses energi terbarukan masih lemah. Suplai energi listrik untuk properti hanya mengandalkan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang belum menggunakan sumber energi terbarukan.
Di Amerika Serikat, lanjut Rana, berbagai perusahaan penyuplai energi listrik dengan berbagai pilihan bahan bakar, termasuk bahan bakar terbarukan. Pengembang yang memilih energi listrik dari sumber terbarukan akan memperoleh poin terbesar dalam konsep green building.
1
(Konsep bagaimana bangunan yang ramah lingkungan itu yang sebenarnya)
Pembicara dalam diskusi panel tersebut di antaranya Yandi Andri Yatmo (Ikatan Arsitek Indonesia-Jakarta), Meiko Handoyo (Dewan Pimpinan Daerah Real Estat Indonesia-Jakarta), Simon Molenberg (Director Tourism, Real Estate and Construction Asia Region), dan Stephanus D Satriyo (Asosiasi Manajemen Properti Indonesia).
Di banyak negara, bagi Meiko, penerapan konsep green building terbukti menambah nilai jual. Namun, di Indonesia masih butuh proses edukasi panjang. Di Indonesia bahkan muncul kerancuan bahwa bangunan ramah lingkungan itu mahal, sulit, dan tidak feasible secara bisnis.
editt(Gedung EDITT, bangunan ramah lingkungan di Singapura yang cukup mahal biaya pembuatannya)
“Para pengelola gedung sebagai pengguna energi cukup besar kini memiliki tanggung jawab mengurangi pemanasan global dengan cara-cara menghemat energi, air, bahan bakar, dan sebagainya,” kata Satriyo. Kegiatan diskusi panel yang difasilitasi PT Colliers International Indonesia dan PT Cisco System Indonesia itu sekaligus untuk mengenalkan acuan green building melalui konsep Leadership in Energy and Environtmental Design (LEED).
Menurut Rana, penerapan konsep LEED pada hakikatnya sebagai upaya pemberian penghargaan atas karya properti ramah lingkungan atau yang memegang konsep green building. Konsep LEED memperkenalkan 85 poin penilaian yang memiliki peringkat tersertifikasi, silver, gold, dan platinum.
Efisiensi
1
(Salah satu contoh gerakan penghijauan, masih dirasa kurang efisien)
Menurut Rana, yang juga menjadi Ketua Himpunan Ahli Tata Udara dan Refrigerasi tersebut, penerapan LEED untuk pembangunan properti juga mensyaratkan secara mutlak beberapa hal, seperti efisiensi penggunaan air, penggunaan energi secara minimum, atau upaya perlindungan lapisan ozon.
Sementara itu, menurut Rana, pemilik atau pembangun properti di Indonesia hingga sekarang belum ada yang memiliki sertifikasi LEED. Beberapa negara, seperti India, China, Dubai, dan Vietnam, juga sudah cukup banyak menerapkan konsep LEED. Sertifikasi LEED pada awalnya dirumuskan Green Building Council Amerika Serikat.
1(Contoh bangunan ramah lingkungan lainnya)
Menurut Yandi, dunia pendidikan dan profesi arsitektur selama ini cenderung melihat arsitektur sebagai bangunan yang berdiri sendiri. “Kita perlu memperluas pengertian tentang arsitektur ini. Tolok ukur green building membuka kesempatan untuk menempatkan bangunan dalam jaringan yang lebih luas, terkait aspek-aspek iklim, sumber daya alam, sosial, dan budaya,” kata Yandi Andri Yatmo.
Menurut dia, “Pendidikan berperan penting dalam pemahaman tentang sustainability.” Isu utama menyangkut bangunan ramah lingkungan, kata Yandi, di antaranya adalah membangun hanya yang diperlukan dan tidak menggunakan lebih dari yang diperlukan, menganut prinsip keterkaitan, serta memandang profesi arsitek sebagai “pengurus bumi” (steward of the earth).
1
(Solar Dezhou, bangunan yang menggunakan energi matahari untuk sistem pencahayaannya)
Strategi desain yang dapat diterapkan antara lain, tambah Yandi, pemanfaatan material berkelanjutan, keterkaitan dengan ekologi lokal, keterkaitan antara transit dan tempat tinggal, rekreasi dan bekerja, serta efisiensi penggunaan air, penanganan limbah, dan mengedepankan kondisi lokal baik secara fisik maupun secara sosial.

Mengapa Penghijauan itu Penting?
Pertanyaan ini pastinya ada dibenak kita, kenapa penghijauan itu penting. Sebenarnya alasan itu sungguh banyak dan tak mungkin dijelaskan satu-persatu secara rinci. Namun, berhubung kita lagi membahas bangunan ramah lingkungan, akan saya jabarkan mengapa penghijaun itu penting bagi bangunan dan manusia didalamnya.
Ada beberapa alasan mengapa Bangunan Ramah Lingkungan sangat penting.
  1. Green Building menghemat energi. Hal ini dipengaruhi oleh desain bangunan, ventilasi udara, penggunaan solar panel.
  2. Penggunaan air yang lebih hemat. Seluruh sistem yang menggunakan air, terutama pada toilet, didesain menghemat penggunaan air, seperti flush pada toilet, teknologi water sense pada dish washers, dan masih banyak lagi.
  3. Green Building menyehatkan untuk manusia. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat kelembaban udara, ventilasi yang sangat memadai, dan filtrasi udara.
  4. Green Building mengurangi sampah / limbah yang ditimbulkan manusia. Hal ini dikarenakan, hampir seluruh bahan bangunan yang digunakan berasal dari daur ulang yang dimana ini memenuhi konsep penyelamatan lingkungan yang sangat sederhana, yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle.
  5. Green Building berperan mengurangi emisi karbon. Dari poin-poin ke-4 diatas, semuanya berperan dalam mengurangi emisi karbon yang dibuang. Sebagai contoh, kaca pada kaseluruhan bangunan, dan  penggunaan solar panel, secara otomatis mengurangi tingkat penggunaan listrik yang dihasilkan pembangkit tenaga listrik yang membutuhkan begitu banyak bahan bakar, dan menghasilkan polusi udara.

Apa Itu Bangunan Ramah Lingkungan?

Konsep green building atau bangunan ramah lingkungan didorong menjadi gaya dunia bagi pengembangan properti saat ini, karena bangunan ramah lingkungan ini memiliki kontribusi dapat menahan laju pemanasan global dengan membenahi iklim mikro.
Fakta akibat pemanasan global menyebabkan terus berkembangnya produk industri dalam dunia arsitektur dan bahan bangunan saat ini. Green building adalah suatu praktek membuat struktur dan menggunakan proses yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sumber daya yang seefisien mungkin di seluruh siklus hidup suatu bangunan, dari saat mendesain, melakukan konstruksi, membangun, memelihara bangunan, melakukan renovasi dan dekonstruksi bangunan. Konsep green building sendiri menekankan peningkatan efisiensi dalam penggunaan air, energi, dan material bangunan.
Green building dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan dampak bangunan baru terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Sebagai contoh, memanfaatkan sinar matahari melalui teknik tenaga surya atau menggunakan tanaman dan pohon-pohon kecil sebagai atap bangunan sehingga terlihat hijau.
Desain green building akan memperhatikan banyaknya ruang terbuka untuk memaksimalkan sirkulasi udara dan cahaya alami, sedikit mungkin menggunakan penerangan lampu dan AC pada siang hari. Selain itu, akan diperhatikan juga bahwa bangunan tersebut hemat energi, membatasi lahan terbangun, sederhana, memiliki mutu yang baik, efisiensi material serta material yang digunakan ramah lingkungan. Rancangan umum saat ini adalah atap-atap bangunan dikembangkan menjadi taman atap yang memiliki nilai ekologis tinggi, yaiktu mengurangi suhu udara dan pencemaran serta menambah ruang hijau.
Penggunaan material bahan bangunan yang tepat juga berperan besar dalam menghasilkan bangunan berkualitas yang ramah lingkungan. Beberapa produsen bahan bangunan telah membuat produk dengan inovasi baru yang meminimalkan terjadinya kontaminasi lingkungan, mengurangi pemakaian sumber daya alam yang tak terbarukan, dan menghemat penggunaan energi secara keseluruhan.
Kesimpulannya adalah, konsep green building yang dikembangkan saat ini akan menjaga lingkungan tetap hijau, selaras, dan harmonis dengan mereka yang tinggal di dalamnya.

Pendekatan Umum Untuk Merancang Green Building

Salah satu pendekatan umum yang dapat digunakan untuk merancang green building adalah sebagai berikut:
Langkah pertama: “To Know Where You Are”
Langkah pertama adalah mengenali lokasi tempat Anda tinggal. Langkah ini mempertanyakan bagaimana kualitas lingkungan hidup di sekitar Anda dan bagaimana kemungkinan tingkat kualitas hidup yang akan dapat dicapai.
Langkah kedua: “Size Does Matter”
Berlawanan dengan pandangan umum bahwa semakin besar ruangan semakin baik bagi penggunanya, terutama pada bangunan rumah tinggal, pada pendekatan green building tidak selalu demikian. Ruangan yang lebih besar tidak lebih baik, karena makin kecil bangunan maka akan makin lebih baik kontrol aspek lingkungan terhadap bangunan tersebut.
Langkah ketiga: “Make Sure Yourself”
Langkah ketiga adalah menyadari dan meyakinkan diri kita sendiri bahwa kita memang ingin membangun bangunan yang ramah lingkungan. Kesadaran ini menjadi salah satu faktor penting karena akan membantu kita fokus pada usaha perancangan yang realistis, dalam artian melakukan penghematan energi dan perlindungan terhadap berbagai sumber alam yang akan dipakai.
Langkah keempat: “Learn The Alternative Way”
Langkah keempat lebih banyak bersifat teknis, yaitu mempelajari alternatif metode membangun dan menggunakan material yang tepat guna serta ramah lingkungan.

Source :https://regarzworld.wordpress.com/2011/01/24/green-building-bangunan-ramah-lingkungan-syaratkan-efisiensi/

Jumat, 15 Mei 2015

Konsep SPA2 Rumah Tinggal Sederhana Ramah Lingkungan


A.    KONSEP

v  TOR
Mendesain rumah tinggal konsep ramah lingkungan yang menjadi daya tarik pada klien yang menginginkan konsep ramah lingkungan serta memaksimalkan fungsi ruang bagi penghuni yang menempati ruang tersebut.

v  STATEMENT
·PENGERTIAN
Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni serta menjadi aset bagi pemiliknya.
Ramah lingkungan adalah suatu program yang tidak menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar, juga bertujuan melestarikan lingkungan, agar bumi kita lestrai tetap bersih, rapih, indah dan nyaman.
Rumah ramah lingkungan menerapkan konsep rumah yang hemat energi,. Dengan memanfaatkan penghawaan dan pencahayaan alami.

·LATAR BELAKANG
Rumah tinggal yang tidak hanya sebagai tempat tinggal sehari-hari, tetapi juga digunakan sebagai tempat untuk bersama-sama dengan keluarga.

·TUJUAN
Menciptakan rumah tinggal yang didalamnya terdapat ruang untuk kegiatan sehari-hari bersama anggota keluarga dengan konsep ramah lingkungan.

·BATASAN
- Luas site maksimal 252 m2
- KDB 60%
- RTH 40%
- GSJ 6 m
- Penghuni tetap 4 orang dan 1orang pembantu ikut tinggal.

·ANGGAPAN
Site siap untuk didirikan bangunan rumah tiinggal yang memiliki karakter ramah lingkungan yang mampu memenuhi kebutuhan penghuni.


B.     AKTIVITAS DAN KEBUTUHAN RUANG


C.     PERSYARATAN RUANG

     Keterangan
√√√          = sangat membutuhkan
√√             = membutuhkan
√               = kurang membutuhkan


D.     POLA HUBUNGAN RUANG



E.     ANALISIS SITE
- Analisa



- Zoning akhir



F.      PENDEKATAN DESAIN
v  BUKAAN (JENDELA)
Elemen dari suatu bangunan yang berfungsi untuk memasukkan cahaya alami dan sirkulasi udara dari dalam dan luar bangunan. Banyaknya bukaan (jendela) dapat meminimalisir penggunaan pencahayaan dan penghawaan buatan, ini adalah salah satu cara penghematan energi. Dan saat ini, manfaat jendela tidak sebatas aspek fungsional seperti telah disebutkan di atas, jendela sebuah bangunan, terutama rumah tinggal, juga berpengaruh besar terhadap aspek estetika dan prestige sebuah rumah.

v  ROSTER
Roster merupakan salah satu partisi/material bangunan untuk sirkulasi udara di ruangan. Roster ini biasanya dipasang diatas pintu atau jendela, bukan hanya untuk sirkulasi udara saja tetapi roster juga dapat memperindah bangunan. Penggunaan roster juga dapat meminimalisir penggunaan pendingin ruangan, karena dengan dipasangnya roster udara dapat mengalir dengan lancar dengan memanfaatkan penghawaan alami yang ada. Roster juga dapat digunakan sebagai dekorasi atau penyekat ruangan supaya tidak terlihat massif dan terlihat lebih indah.

v  GRASSBLOCK
Grassblock adalah sebuah blok yang diperkenalkan sangat awal didalam permainan ini. Blok ini menggunakan 4 tekstur: tesktur berwarna abu-abu untuk bagian atas yang kemudian diwarnai menjadi warna yang benar tergantung bioma apa tempat blok tersebut berada, tekstur yang diambil dari tekstur tanah untuk bagian bawah, tekstur tanah yang diubah dengan rumput diatasnya di semua sisinya, dan tekstur abu-abu yang sesuai dengan bentuk rumput di sisi blok, yang kemudian diwarnai menjadi warna bioma.

v  BIOPORI

Biopori adalah lubang sedalam 80-100cm dengan diameter 10-30 cm, dimaksudkan sebagi lubang resapan untuk menampung air hujan dan meresapkannya kembali ke tanah. Biopori memperbesar daya tampung tanah terhadap air hujan, mengurangi genangan air, yang selanjutnya mengurangi limpahan air hujan turun ke sungai. Dengan demikian, mengurangi juga aliran dan volume air sungai ke tempat yang lebih rendah.

v  VERTICAL GARDEN
Vertical Garden (Vega) adalah sebuah alternatif baru bagi siapa saya yang ingin memiliki taman tetapi tidak memiliki lahan yang luas. Vertical Garden dikenal juga dengan beberapa istilah seperti taman tegak, green wall, taman vertical dan lain-lain.  Vertical Garden adalah konsep taman tegak, yaitu tanaman dan elemen taman lainnya yang diatur sedemikian rupa dalam sebuah bidang tegak. 

Ruang hijau sangat diperlukan untuk keseimbangan kehidupan manusia.  Ironisnya, di kota-kota besar, lahan terbuka hijau makin sempit.  Perumahan-perumahan di kota besar juga menyisakan lahan terbuka hijau yang sangat terbatas.  Terbatasnya lahan yang dapat digunakan untuk menanam tanaman, menjadi kendala serius dan harus dicari jalan agar rumah hunian tetap dapat memiliki taman yang cukup.  Ruang hijau tidak hanya dibutuhkan untuk resapan air serta keindahan semata.  Tanaman juga memiliki fungsi untuk memperbaiki struktur udara di perkotaan. Tanaman hidup dapat mengurangi dampak polusi udara dan sebagai sumber oksigen bagi kehidupan manusia.

Salah satu cara menanam tanaman dalam jumlah yang cukup, walaupun ruang yang ada sangat terbatas, adalah dengan konsep taman vertikal atau vertical garden (Vega).  Vega adalah konsep taman tegak, yaitu tanaman dan elemen taman lainnya yang diatur sedemikian rupa dalam sebuah bidang tegak.  Dengan konsep ini, ruang tanam/space bisa jauh lebih besar dibanding dengan taman konvensional, bahkan jumlah tanaman yang dapat ditanam bisa beberapa kali lipat, sehingga dapat menambah ruang hijau secara sangat signifikan.  Vega dapat diaplikasikan di berbagai bangunan (out door maupun indoor), pagar, carport, serta dinding-dinding pembatas lainnya, sehingga terlihat lebih indah dan tidak monoton berupa dinding yang keras, tapi lebih terkesan alami, bahkan dapat menyerupai lukisan yang sangat artistik

v  KUSEN UPVC
UPVC adalah kependekan dari Unplasticized Poly Vinyl Chloride yang memiliki komposisi material 85% PVC dan 15% adalah stabilizers + Modifier + filler +color pigments, + titanium di Oxide, yang akan membuat komposisi UPVC menjadi komposisi dan tahan terhadap perubahan cuaca.

UPVC atau Unplasticised Polivinyl Chloride adalah sejenis thermoplastic yang berasal dari unsur garam dan minyak bumi. Bahan ini yang pada dasarnya tahan terhadap berbagai kondisi cuaca dan zat kimia. UPVC dikembangkan dengan penambahan beberapa pendukung untuk kekuatan struktur (steel reinforcement) dan ramah lingkungan sehingga menjadikan bahan tersebut optimal dipakai sebagai bahan pengganti kayu, alumunium, dan besi untuk membuat kusen pintu dan jendela.

Selain kuat dan bermutu, UPVC juga ramah lingkungan, sehingga banyak negara-negara maju telah memanfaatkan material UPVC untuk  dipergunakan sebagai salah satu bahan bangunan pengganti kusen pintu, jendela dan atap.

Masyarakat yang belum mengenal UPVC mungkin akan memandang bahwa harga satu  kusen pintu atau jendela  UPVC lebih mahal dibandingkan dengan  harga satu kusen pintu dan jendela dari bahan alumunium atau kayu. Tetapi dengan berbagai keuntungan yang didapatkan dari pemakaian kusen pintu dan jendela UPVC, tentu kita akan mendapatkan nilai dan keuntungan yang sebanding, bahkan berlipat. Apalagi kusen pintu dan jendela pada umumnya dipasang untuk digunakan dalam  jangka waktu yang panjang, maka penggunaan kusen pintu dan jendela UPVC adalah suatu investasi yang sangat tepat.

UPVC ditemukan pertama kali di Jerman pada tahun 1960 dan sampai saat ini sudah menjadi favorit dalam pembuatan bangunan. hampir 90% bangunan di Jerman telah menggunakan komponen UPVC terutama untuk kusen pintu dan jendela, yang menggantikan kayu juga alumunium.

Kelebihan UPVC dibanding kayu, sudah jelas, tidak merusak lingkungan dalam arti, merusak populasi pohon, juga tahan terhadap rayap, dan bebas dari perawatan. Kelebihan UPVC dibanding kusen alumunium, lebih tahan terhadap cuaca, dan tidak keropos, UPVC tidak memuai atau menyusut dan lebih lentur, sehingga tetap kuat walaupun dipukul.

v  BETON RINGAN
Teknologi material bahan bangunan berkembang terus, salah satunya beton ringan aerasi (Aerated Lightweight Concrete/ALC) atau sering disebut juga (Autoclaved Aerated Concrete/ AAC). Sebutan lainnya Autoclaved Concrete, Cellular Concrete, Porous Concrete, di Inggris disebut Aircrete and Thermalite.

Beton ringan AAC ini pertama kali dikembangkan di Swedia pada tahun 1923 sebagai alternatif material bangunan untuk mengurangi penggundulan hutan. Beton ringan AAC ini kemudian dikembangkan lagi oleh Joseph Hebel di Jerman di tahun 1943. Hasilnya, beton ringan aerasi ini dianggap sempurna, termasuk material bangunan yang ramah lingkungan, karena dibuat dari sumber daya alam yang berlimpah. Sifatnya kuat, tahan lama, mudah dibentuk, efisien, dan berdaya guna tinggi.




Jumat, 24 April 2015

Konsep Rumah Tinggal Ramah Lingkungan SPA2





Rumah merupakan kebutuhan primer bagi setiap manusia. Rumah menjadi tempat terpenting didalam menjalani sebuah kehidupan. Bukan hanya sebagai tempat bernaung, rumah menjadi hal yang tidak terpisahkan dan berpengaruh pada kehidupan manusia.

Seiring berjalannya waktu, konsep arsitektur rumah terus berkembang memenuhi keinginan manusia. Konsep rumah zaman dahulu yang selalu identik dengan unsur mistik dan budaya banyak digantikan dengan rumah modern yang mengedepankan kebutuhan pada saat ini. Kita bandingkan saja konsep rumah adat, era 1900 an, tahun 60'  an, dan rumah-rumah pada saat ini. Maka akan terlihat konsep yang sangat kontras dari segi kebutuhan dan pemaknaan nilai sebuah bangunan rumah.

Pada saat ini banyak bangunan rumah yang mengedepankan konsep modernitas, namun mengurangi nilai penting sebuah rumah. Sebuah rumah haruslah menjadi tempat yang sehat untuk membesarkan anak-anak dan sesuai dengan kebutuhan kita. Selain itu rumah sebaiknya memenuhi kriteria ramah terhadap lingkungan. Konsep pembangunan rumah  ramah lingkungan akan menghasilkan rumah yang sehat.

Konsep Rumah Sehat
Rumah yang baik dibuat dengan memperhatikan berbagai komponen penting yang mempengaruhi sebuah rumah. Beberapa unsur penting seperti pencahayaan, tata ruang, konsep pintu, jendela, dan ventilasi, sumber air, konsep sanitasi (sampah, limbah rumah tangga, kamar mandi, WC) dll. harus diperhatikan untuk menciptakan rumah dengan kriteria sehat.

Jendela dan ventilasi adalah bagian yang sangat penting untuk menciptakan rumah yang sehat. Jendela dan ventilasi mengatur tata pencahayaan dan mengatur keluar masuknya udara. Arah datangnya cahaya matahari harus diperhatikan untuk mengatur panas dan cahaya yang masuk kedalam rumah. Ventilasi disesuaikan dengan ukuran ruangan yang ada. Semakin besar ukuran jendela dan ventilasi akan memperbesar penghilangan panas dan masuknya udara.


Pengaturan ruang juga menjadi hal pokok dalam pembuatan rumah sehat. Letak ruang tamu, kamar tidur, dapur, dan kamar mandi harus diperhatikan. Peletakan kamar mandi yang berdekatan dengan ruang makan harus dihindari. Jika tidak memungkinkan untuk meletakkan kamar mandi bersebrangan dengan ruang makan (karena areal lahan pembuatan rumah yang minim), maka pengaturan ventilasi kamar mandi harus dibuat sebaik mungkin. Sirkulasi udara harus langsung dari luar rumah artinya, ventilasi berbatasan dengan lingkungan luar rumah.

Pembuatan rumah yang sehat harus memperhatikan kondisi geografis areal yang akan dibuat rumah. ketersediaan air bersih harus diperhatikan. Selain itu rumah sehat juga harus memperhatikan sanitasi. Letak pembuangan sampah harus diperhatikan, sebaiknya sejauh mungkin dari rumah dan tidak mengganggu kenyamanan kita. WC dan pembuangan limbah rumah tangga harus dibuat dengan baik agar tidak mencemari lingkungan. Selain itu hal penting yang perlu diingat adalah jarak dengan sumur atau sumber air minimal 10 m. mengapa demikian? hal ini dikarenakan zat-zat kimia dan organisme mikroskopik biasanya masih banyak terdapat disekitar penampungan WC dan pembuangan limbah rumah tangga.

Rumah sehat juga harus memperhatikan faktor biologi lingkungan sekitar rumah. Sebaiknya tanam beberapa pohon yang perakarannya tidak merusak bangunan sebagai penyedia kebutuhan oksigen dirumah kita. Selain itu dengan menanam pohon lingkungan rumah juga menjadi asri, teduh.

Rumah Ramah Lingkungan 
Rumah ramah lingkungan yang dimaksud disini adalah dari proses pembangunan rumah hingga bangunan berdiri dan kita huni sekecil mungkin berdampak negatif terhadap lingkungan. Dengan menerapkan konsep rumah ramah lingkungan banyak hal positif yang akan kita dapatkan. Beberapa hal yang yang perlu diperhatikan untuk menerapkan konsep rumah ramah lingkungan, yaitu:

  1. Memilih bahan ramah lingkungan: Kita haruslah cerdas dalam memilih bahan bangunan yang kita gunakan dalam membangun rumah dan interior. Semakin sedikit kita menggunakan kayu sebagai bahan bangunan, semakin baik. Artinya kita mendukung pengurangan penebangan kayu. Berapa ribu hektar hutan yang rusak untuk ditebang kayunya? pada saat ini kayu dapat diganti dengan bahan lain seperti baja.
  2. Mengurangi penggunaan energi listrik dan Air: Konsep rumah hemat energi merupakan konsep penting dalam mendukung pengurangan penggunaan bahan bakar fosil. Di Indonesia sebagian besar pembangkit energi listrik masih menggunakan bahan bakar batubara. Dengan mengurangi penggunaan cahaya lampu dan alat-alat elektronik akan memperkecil penggunaan energi listrik. Dengan memaksimalkan jendela dan ventilasi pencahayaan akan lebih maksimal. Selain itu ventilasi membuat sirkulasi udara menjadi baik dan menghindari penggunaan AC. Apakah kita tahu bahwa emisi dari AC akan merusak lapisan ozon dan menigkatkan global warming?
    Selain energi listrik penghematan air juga dapat dilakukan dengan cara-cara yang efesiesn. 
    Penggunaan aerator mampu membatasi aliran air dari keran, bahkan mampu menghemat penggunaan air hingga 30 persen. Penggunaan shower dapat menghemat air lebih dari 60%. Penggunaan gayung mandi dapat menghabiskan 15 liter air, sementara dengan bak mandi (bathtub), dapat menghabiskan sedikitnya 100-300 liter. 
  3. Memaksimalkan teknologi dan energi: Penggunaan solar cell  dapat memenuhi kebutuhan listrik rumah kita. Banyak sekali konsep rumah modern di eropa dan amerika yang menggunakan solar cell untuk memenuhi energi listriknya. Selain itu solar cell pada saat ini masih menjadi energi yang paling ramah lingkungan. Namun sayangnya di Indonesia solar cell  belum terlalu berkembang. Energi lainnya yang dapat dihasilkan setingkat rumah adalah penggunaan energi biogas. Konsep ini memang membutuhkan perencanaan yang matang. Di Cina ribuan rumah tangga menggunakan energi biogas dari limbah rumah tangga yang menggantikan gas LPG sepenuhnya.
  4. Konsep rumah sehat dan rumah hijau: Seperti dijelaskan dalam bahasan "Rumah Sehat" diatas, pembuatan rumah sehat yang memperhatikan sanitasi akan memperkecil dampak negatif dari limbah rumah tangga dan sampah yang dihasilkan. Pembuangan sampah harus benar-benar diperhatikan. Selain itu dengan menerapkan konsep rumah hijau dengan menanam berbagai tanaman dan pohon akan merawat lingkungan sekitar rumah. Siklus hidrologi (air tanah) menjadi lebih baik karena sistem perakaran pohon. Udara juga menjadi lebih bersih karena adanya pohon. Tanaman hias seperti lidah mertua (Senseveria sp.) yang ditempatkan di ruangan mampu menyerap polusi yang dihasilkan dari berbagai sumber polusi seperti asap rokok.

Eco Office

Suhu udara yang semakin panas di berbagai kota khususnya kota besar. Pembangunan pesat seperti gedung-gedung perkantoran, jalan dan lainnya memicu terhadap naiknya suhu udara. Meskipun beberapa ahli berpendapat bahwa global warming merupakan fenomena yang wajar dan tidak akan terlalu memengaruhi terhadap keberlangsungan bumi namun bagi manusia dampak sekecil apapun akan terasa sangat besar.
Berangkat dari isu global warming tersebutlah akhir-akhir ini berbagai instansi menggalakan konsep berwawasan lingkungan dalam setiap kegiatan. Salah satu trend terbaru dan bisa menjadi inspirasi adalah konsep Eco-Office atau konsep kantor ramah lingkungan. Konsep tersebut dapat diaplikasikan pada semua kantor agar bisa membuat suasana nyaman dan di sisi lain menghemat biaya operasional. 
Banyak kantor-kantor khususnya di luar negeri yang sudah menerapkan konsep ini untuk meningkatkan kenyamanan dan kinerja karyawan serta tentu saja sebagai wujud partisipasi dalam mengurangi global warming. Bayangkan jika di dalam kantor anda banyak terdapat tumbuhan dengan aksen hijau seperti taman atau hutan maka pikiran akan menjadi lebih fresh dan semangat kerja akan meningkat.

Eco-Office 
Memang bagi sebagian orang konsep ini masih terdengar awam namun di tangan orang kreatif ini menjadi sebuah ide untuk menjadi lahan bisnis khususnya di bidangGreen Design. Bisnis ini memang belum banyak namun karena ini peluang untuk mempromosikan akan semakin besar karena saingan belum banyak. Anda hanya harus mematangkan latar belakang dan visi ketika akan menawarkan konsep Eco-Office tersebut. Jika saat ini taman-taman banyak di buat di luar area gedung maka sudah saatnya taman tersebut di bawa ke dalam ruangan tentunya dengan sentuhan inovasi agar hasilnya tidak mengecewakan. Konsep green design ini tidak semata-mata memaksakan memindahkan tanaman-tanaman ke dalam ruangan. Jika memang ruangan terlalu sempit maka design bisa diatur dari sisi tata letak, pemilihan bahan furniture, dan ornamen lainnya yang penting sejalan dengan konsep berwawasan lingkungan.
Eco-Office ini dapat dijalankan pada setiap instansi tak terkecuali sekolah. Sekolah sebagai sebuah agen perubahan tentunya dapat mengaplikasikan model ini sebagai bagian dari perwujudan pembangunan berwawasan lingkungan. Kantor bukan hanya lagi sebagai tempat kerja namun sebagai taman dan tempat relaksasi. Bagi yang belum paham tentang konsep arsitektur seperti ini memang diperlukan konsultasi pada jasa konsultan design. 
Membangun Eco-Office bukan hanya memerlukan keahlian design semata namun perlu didasari oleh passion yang kuat di bidang lingkungan. Kamu harus yakin bahwa sekarang ini manusia harus mulai merubah sedikit gaya hidupnya agar kembali selaras dengan lingkungan. 
Dengan membangun Eco-Office diharapkan setiap karyawan nantinya dapat belajar kembali menghargai lingkungan mulai dari tempat kerjanya dan karakter tersebut akan terbawa hingga ke luar tempat kerja. 
Bagaimana?anda tertarik mengembangkan Eco-Office di kantor tempat anda bekerja? silahkan diskusikan dengan pimpinan anda. Mari berpartisipasi dalam mewujudkan pemabangunan berkelanjutan.

Eco-Office di Jepang


Konsep Rumah Ramah Lingkungan

Pemanasan global menjadi ancaman dan perhatian serius bagi seluruh penghuni bumi. Melakukan penghematan energi bisa dilakukan mulai dari hal-hal kecil, termasuk dari konsep desain rumah tinggal.

Sebagai tempat aktivitas setiap keluarga, rumah tinggal adalah tempat yang sangat menyerap penggunaan energi, kedua terbesar setelah industri. Bayangkan, didalamnya manusia beraktivitas selama 16 jam bahkan mungkin lebih, yang didukung dengan penggunaan listrik yang memakan energi cukup besar. Menuju bangunan atau rumah yang ramah lingkungan, artinya kita harus mengukur mengenai dampak pada lingkungan luar serta membantu memperbaiki lingkungan dalam. Aspek yang terkait adalah rancangan arsitektur bangunan, metodologi membangun, material bangunan, efisiensi penggunaan energi, efisiensi penggunaan air dan life cycle ecological living.


Desain rumah ramah lingkungan merupakan bentuk dukungan terhadap keramahan lingkungan. Yang berarti, haruslah hemat energi, karena eksplorasi terhadap penggunaan energi dapat mengancam kehidupan generasi penerus. Gerakan penghematan energi bisa dilakukan kala kita hendak membangun rumah baru atau merenovasi rumah. Apa sajakah itu?

Efisiensi Pencahayaan

Manfaatkan semaksimal mungkin cahaya matahari sebagai sumber cahaya di pagi hingga sore hari. Menggunakan cahaya matahari dapat menghemat energi listrik dari lampu yang digunakan di siang hari. Pencahayaan alami bisa diperoleh melalui pencahayaan samping yaitu dari jendela, dan pencahayaan atas yang berasal dari lubang atap. Buatlah desain rumah yang lebih terbuka pada dinding dan atap, agar cahaya matahari dapat masuk ke dalam rumah secara lebih maksimal. Mengurangi sekat ruangan, menyatukan fungsi ruang, dapat memaksimalkan cahaya yang masuk ke dalam rumah.

Efisiensi Ruang

Menggabungkan lebih dari satu fungsi dalam satu ruangan, adalah pilihan baik, dibanding harus memboroskan ruang. Misalnya meniadakan fungsi ruang tamu, karena kita jarang menerima tamu, atau lebih sering menerima tamu di teras. Buat saja ruang keluarga yang lebih besar, agar bisa nyaman dan maksimal untuk bercengkrama sekaligus menerima tamu yang sudah kenal dekat. Dalam hal ukuran bangunan, lebih besar tidak selalu lebih baik. Karena makin kecil (baca : sederhana) bangunan, akan makin baik control aspek lingkungan terhadap bangunan tersebut.

"Bangunan ramah lingkungan, dirancang dengan massa ruang, keterbukaan ruang, dan hubungan ruang luar-dalam yang cair, teras lebar, ventilasi bersilangan, dan void berimbang."

Pembayangan Ruang Luar, Kulit Bangunan, Ventilasi

Pemilihan bahan dan desain pembayangan, serta bukaan ventilasi yang baik, mempengaruhi kenyamanan dan energi dalam rumah. Berikan secondary skin pada dinding bagian luar, terlebih jika rumah menghadap ke arah barat. Buat teritisan di atas bukaan, yang fungsinya meredam panas matahari secara langsung ke dalam rumah. Bangunan dirancang dengan teras lebar, ventilasi bersilangan; yaitu membuat bukaan (jendela) pada dua dinding yang berbeda, innercourt serta void berimbang, untuk sirkulasi udara dan cahaya alami ke seluruh ruangan, agar hemat energi.

Atap yang “Dingin”

Pilih bahan penutup atap yang memiliki nilai hambatan hantaran panas cukup besar, dan kemampuan memantulkan panas dengan baik. Penggunaan atap dari bahan tanah atau keramik, sangat baik untuk kenyamanan ruang dalam. Tambahkan pula lembaran aluminium foil yang dipasang di bawah penutup atap. Material styrofoam yang dilapis beton (beton Styrofoam) juga berpotensi membuat dingin ruang dalam. Dinding rumah tetap terasa “dingin” meskipun saat siang hari.

Material Ramah Lingkungan

Gunakan bahan bangunan yang tepat, efisien, dan ramah lingkungan. Pilih produk lokal yang berkualitas, untuk meminimalkan terjadinya kontaminasi lingkungan, mengurangi pemakaian sumber daya alam tak terbarukan dengan optimalisasi bahan baku alternatif, serta menghemat penggunaan energi secara keseluruhan. Memilih bahan baku lokal atau dari pabrik terdekat berarti menghemat transportasi dan mengurangi karbon emisi dari kendaraan. Tak ada salahnya, memanfaatkan material bekas atau sisa bahan renovasi, misalnya genteng bekas, kayu atau bambu bekas perancah, kusen lama.

Pemanfaatan Lahan Hijau

Elemen vegetasi berpotensi untuk menyejukkan lingkungan dan menurunkan udara panas, serta meredam panas. Semakin banyak pohon yang ditanam, udara makin sejuk dan oksigen yang dihasilkan dapat mencegah pemanasan global. Ciptakan roof garden atau vertical garden, jika halaman tidak memungkinkan. Dinding yang dijalari tanaman rambat membuat suhu udara di luar dan di dalam turun, sekaligus untuk pasokan udara bagi penghuni.

Gaya Hidup Hemat

• Hemat Air. Kurangi kebiasaan berendam di bathtub, mencuci kendaraan dengan air yang mengalir dan terbuang kemana-mana. Ganti bak mandi atau bathtub dengan shower , untuk menghemat air.
• Buat sumur resapan, lubang biopori atau septictank ramah lingkungan yang tidak mencemarkan lingkungan.
• Memakai perangkat elektronik dan rumah tangga yang hemat energi, akan berpengaruh dengan biaya listrik yang dikeluarkan tiap bulan. Pilih yang hemat energi listrik, sehingga memiliki life cost yang ringan untuk operasionalnya.


Source : http://aplatteroffigs.blogspot.com/2014/03/konsep-rumah-ramah-lingkungan.html

Konsep Arsitektur Hijau Karya Budi Pradono

Konsep ‘green architecture’ atau arsitektur hijau menjadi topik yang menarik saat ini, salah satunya karena kebutuhan untuk memberdayakan potensi site dan menghemat sumber daya alam akibat menipisnya sumber energi tak terbarukan. Berbagai pemikiran dan interpretasi arsitek bermunculuan secara berbeda-beda, yang masing-masing diakibatkan oleh persinggungan dengan kondisi profesi yang mereka hadapi. Salah satunya konsep 'green' oleh Budi Pradono, seorang arsitek yang sudah dikenal di mancanegara dengan berbagai award internasional yang sudah diraihnya.

'Green Architecture' oleh Budi Pradono





Profesi arsitek saat ini sedang mengalami tekanan yang kuat untuk melakukan perubahan besar dalam metode merancang dan juga melakukan absorbsi teknologi yang cepat agar dapat menghasilkan rancangan yang kontemporer yang berorientasi pada Arsitektur Hijau (green architecture), yang lebih tanggap pada isu-isu lingkungan. Saat ini Best Practice selalu dikaitkan dengan etika arsitek dalam mengantisipasi pemanasan global, penghematan energy, dan pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung-jawab. (Budi Pradono)

Saat menjelaskan tentang green design, Budi Pradono menggunakan contoh-contoh dari desain yang ia hasilkan, baik yang menurutnya ‘green’ atau ‘tidak green’. Profesi arsitek dewasa ini menuntut kita untuk melihat ‘green’ sebagai kesatuan dalam desain bangunan, dimana sekarang ini banyak award khusus diberikan pada bangunan yang ‘green’ dengan berbagai kriteria.

‘Green’ dapat diinterpretasikan sebagai sustainable (berkelanjutan), earthfriendly (ramah lingkungan), dan high performance building (bangunan dengan performa sangat baik). Ukuran 'green' ditentukan oleh berbagai faktor, dimana terdapat peringkat yang merujuk pada kesadaran untuk menjadi lebih hijau. Di negara-negara maju terdapat award, pengurangan pajak, insentif yang diberikan pada bangunan-bangunan yang tergolong 'green'.



Yang sering menjadi pertanyaan adalah bagaimana mendesain sebuah bangunan yang 'green' sekaligus memiliki estetika bangunan yang baik? Karena bisa saja bangunan memiliki fasilitas yang mendukung konsep green, namun ternyata secara estetika terlihat kurang menarik. Dalam hal ini, peran arsitek menjadi penting. Standar bangunan yang 'green' juga bisa menuntut lebih banyak dana, karena fasilitas yang dibeli agar bangunan menjadi 'green' tidak murah, misalnya penggunaan photovoltaic (sel surya pembangkit listrik). Teknologi agar bangunan menjadi 'green' biasanya tidak murah.

Indikasi arsitektur disebut sebagai 'green' jika dikaitkan dengan praktek arsitektur antara lain penggunaan renewable resources (sumber-sumber yang dapat diperbaharui, passive-active solar photovoltaic (sel surya pembangkit listrik), teknik menggunakan tanaman untuk atap, taman tadah hujan, menggunakan kerikil yang dipadatkan untuk area perkerasan, dan sebagainya.

Konsep 'green' juga bisa diaplikasikan pada pengurangan penggunaan energi (misalnya energi listrik), low energy house dan zero energy building dengan memaksimalkan penutup bangunan (building envelope). Penggunaan energi terbarukan seperti energi matahari, air, biomass, dan pengolahan limbah menjadi energi juga patut diperhitungkan.

Arsitektur hijau tentunya lebih dari sekedar menanam rumput atau menambah tanaman lebih banyak di sebuah bangunan, tapi juga lebih luas dari itu, misalnya memberdayakan arsitektur atau bangunan agar lebih bermanfaat bagi lingkungan, menciptakan ruang-ruang publik baru, menciptakan alat pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya.




Budi Pradono menjelaskan tentang konsep 'green' dalam rancangannya melalui contoh, misalnya pada rancangan Bloomberg Office, dimana diterapkan desain yang mendukung pencahayaan alami dapat bermanfaat untuk keseluruhan lantai kantor, penggunaan alat yang dapat mendeteksi cahaya alami untuk mengurangi penggunaan pencahayaan buatan, yang merupakan salah satu contoh efisiensi pencahayaan.



Pada 'K-house' yang dirancangnya untuk rumah mungil dengan 3 orang penghuni dan 5 ekor anjing, konsep arsitektur hijau diterapkan pada rancangan desain yang dibuat agar anjing-anjing tidak mudah lepas dan mengganggu tetangganya. Rumah ini mengetengahkan konsep rumah 'kandang' dengan jeruji-jeruji besinya, yang didesain dengan artistik sehingga menghilangkan kesan kandang dan menimbulkan artikulasi arsitektur baru dengan estetika yang unik.

Ahmett Salina Studio di Jakarta Selatan adalah salah satu rancangan dimana open space ditambahkan agar ruang hijau didepan bangunan lebih luas dan dapat digunakan bersama dengan tetangga-tetangganya. Rumah ini juga 'menggunakan dinding tetangga' untuk penghematan resource, serta memanfaatkan elemen bambu untuk secondary skin yang dapat menetralisir panas matahari.

AA house di Cipinang, Jakarta Timur dikonsep dengan keleluasaan ruang-ruang untuk saling overlap satu sama lainnya. Ruang tamu dan musholla dapat dibuka dan mencairkan ruang lebih luas. Roof garden dibuat pada tiap lantai hingga atapnya.

Dari konsep-konsep desain tersebut, terdapat upaya Budi Pradono untuk menghadirkan 'green design' dalam rancangan arsitekturnya, dimana letak 'green' pada tiap bangunan bisa berbeda sesuai dengan tuntutan dan kondisi yang ada.


Baca lebih lengkap: astudioarchitect.com: Konsep Green architecture/ arsitektur hijau oleh Budi Pradono http://www.astudioarchitect.com/2008/11/konsep-green-architecture-arsitektur_10.html#ixzz3YFLEsGA4


Source : http://www.astudioarchitect.com/2008/11/konsep-green-architecture-arsitektur_10.html